akhirnya..
aku wisuda. gelar Dr pun di jajarkan di awal namaku.
ada sedikit rasa bangga yang menyeruak begitu aku mendengar seseorang memanggil ku dengan sebutan "pak dokter".
dan melihat sebuah papan nama yang menempel di bajuku "Dr.hendrawan"
memang sih, aku hanya seorang psikiater.
tapi untuk mendapatkan gelar pak dokter itu tak semudah membalikkan telapak tangan.
di pesta wisuda ini, beberapa orang keluargaku hadir. bahagia sih,,, tapi ada satu hal yang membuatku sedikit tak bahagia.
"mama"
beliau tak hadir.
kabarnya sih, encoknya mama lagi kumat. jadi nggak bisa bangkit dari kasurnya.
bukannya mau tak mau, melainkan aku memang, bahkan harus, bukan harus lagi sih.. tapi aku memang akan pulang kampung dan menemui beliau.
aku harap mama bangga dengan gelar yang sudah susah payah aku dapatkan ini.
berfoto-foto sudah pasti menjadi hal yang paling utama di lakukan begitu acara wisudawan selesai di selenggarakan.
paman dan bibi mengantarkanku ke stasiun K.A esok harinya.
"sampaikan salam tante sama mamamu ya, hen..!"
"iya, tan..!" jawabku dan tersenyum.
aku masih berdiri di pintu gerbong sampai kreta api melaju. dan aku melambai-lambaikan tanganku pada sepasang suami-istri yang romantis itu.
semoga saja, suatu hari nanti aku mendapatkan calon istri yang soleha dan dapat membangun rumah tangga yang tak kalah harmonis dan romantis seperti mereka. amin ya robb
sesampainya di kampung halaman yang sangat kurindukan itu, warga kampung meyambutku dengan suka cita. anak-anak kampung berlarian mengitariku.
seraya berkata "pak dokter.. pak dokter..." aku tersenyum saja mendengar teriakan anak-anak kampung yang menggemaskan itu.
tak jauh, terlihat rumahku masih dengan cat tembok kuningnya, berdiri di antara rumah-rumah mewah masa kini, tapi ia tetap tak terlihat kumuh. walau gentengnya sudah tak lagi bersinar menyilaukan, malahan memberikan kesan darah yang melumuri seng rumahku, rumah itu tetap indah di pandang. dan di rumah itulah aku di besarkan.
seorang laki-laki bercelanakan biru pendek, aku yakin itu celana seragam sekolah SMP, tersenyum menyambutku di teras rumah.
"bang hendra..." serunya dan menyalamiku
dia adikku hendri. ia masih duduk di bangku SMP. kulitnya yang dulu putih, kini mulai gelap. mungkin, 5 tahun ku tinggal, dia suka main panas-panasan.
hendri membantuku mengangkat koper dan tas-tas berat yang sedari tadi ku jinjing.
aku mengelus kepalanya kasar. ia meringih namun tertawa
sudah lama sekali kami tak bertemu. dan sekarang dia sudah remaja. terakhir kutinggalkan, hendri masih bercelana merah dan masih setinggi pinggangku.
sekarang ia sudah hampir sama tingginya denganku.
"mama mana dek?" tanyaku
"di kamar bang, lagi ngambek..." katanya dan tertawa jahil
"ngambek kenapa??" tanyaku dan tersenyum
hendri tak menjawab.
ku sibak tirai kamar mama. pintu kamarnya di biarkan terbuka.
aku mengetuk daun pintu dan terlihatlah tubuh lemah itu sedang duduk bersandar pada kursi goyang yang menghadap ke jendela.
aku masuk, dan berdiri di belakang kursi beliau.
dari jendela ini, aku bisa melihat teras dan halaman yang dipenuhi anak-anak kampung yang bermain kelerang dan lompat tali dengan riangnya.
tak salah lagi, pasti mama sudah melihat kehadiranku lewat jendela kumuh ini.
"ma..." seruku
"mama tidak butuh, dokter yang tak bisa menyembuhkan...!"
perkataan mama bagai halilintar yang memecah jagad raya. belum sempat aku berbasa-basi, beliau sudah menghadangku dengan perkataan yang bagai pedang tajam yang menghunus ke hidungku.
"tidak ada dokter yang tidak bisa menyembuhkan...!" kataku membela diri.
mungkin mama kecewa karena aku bukanlah seorang dokter seperti yang berada di rumah sakit itu.
seperti dokter bedah, dokter umum, dokter gigi, dan lain-lain.
mungkin, menurut mama aku hanya bisa menjadi tempat curhat orang-orang yang memiliki masalah saja.
pada kenyataannya tidak seperti itu.
mungkin aku memang hanya sebatas seorang dokter jiwa saja, tapi...
ah, sudahlah... percuma menjelaskannya. mama toh tetap akan melihatku dengan sebelah mata.
"apa kamu bisa mengoprasi orang yang tertembak?" tanya mama, namun matanya sama sekali tak melirikku. aku terdiam.
"apa kamu bisa mengobati orang yang mengidap penyakit jantung? kanker? gagal ginjal,..??"
"hendra bukan dokter..." belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku
mama sudah memotongnya
"ia, kamu bukan dokter!! kamu adalah seorang dokter sampai kamu bisa mengobati penyakit orang...!"
"mama...." tak terasa air mataku jatuh juga.
aku berjalan dan berdiri di hadapan beliau. ia masih tak melihat wajahku.
aku terduduk dan memeluk kakinya erat.
bukan ini yang kuharapkan.
dulu, sewaktu aku masih kecil, mama selalu berkata padaku
"kalau sudah besar nanti, hendra mau kan, jadi dokter seperti papa?"
"mau ma..." jawabku
"biar bisa ngobatin orang kampung kita, biar bisa nyembuhin orang-orang sakit,.. hendra mau kan menolong orang sakit??"
"iya ma, mau...!" jawabku polos.
mama mencium kepalaku lembut dan mengelusnya dengan penuh kasih sayang
saat itu, mama tengah mengandung adikku hendri
aku mengelus-elus perut mama yang besar.
"kalau hendra sudah jadi dokter, hendra bisa nolongin orang melahirkan...! hendra mau punya adik kan sayang?"
"mau ma...!" jawabku girang
"kalau adiknya perempuan, mau di kasih nama apa?"
"indli..." jawabku
"indli?" mama bertanya memastikan
"indllii... indli, indli..." jawabku seraya berteriak-riak tak jelas. berharap mama mengerti, yang kumaksud itu bukan indli, tapi indri.
"ohh... indri....!"
"iya ma...!" jawabku dan terseyum
"kalau laki-laki?? namanya siapa??"
"em,,, hendli..!" jawabku mantap
"hendri??"
"..." aku mengangguk menggemaskan
"namanya sama donk, kaya kamu..."
"gak papa ma, bial adeknya cakep kayak hendla..."
"hahaha..." mama tertawa dan mendekapku erat
tapi kenyataannya, aku tidak menjadi dokter seperti yang diharapkan mama.
aku mengambil spesialis jiwa.
mama murka.
ku hapus air mataku dan melirik wajah mama yang sama sekali tak ada senyum.
"ma,, mama gak kangen sama hendra? anak mama yang ganteng ini??" tanya ku manja dan memeluk beliau mesra.
mama tak berkutik
"ayo lah ma, balas pelukan anak mama yang merindukan mamanya ini...!" rengekku.
mama masih diam
"ma..." aku mulai ngeles terlihat mama mengerutkan dahinya
"berapa tahun kamu di kota? bukannya makin dewasa, malah makin manja..."
seru mama
aku tak peduli dan memeluk beliau sekali lagi.
dan mama pun membalas pelukanku.
ya robb,, aku udah kangen banget sama bau badan mama.
pelukan hangat mama.
seandainya saja, allah memberhentikan waktu semenit aja.
aku akan sangat bahagia.
"udah ah,,.,! kamu gak malu di liat adikmu seperti ini??" mama melepaskan pelukannya dan mendorongku lemah.
"ngapain malu...! kan mama hendra sendiri. bukan mama orang...!"
sepertinya, amarah mama sudah mereda.
hendri masuk dan duduk di kasur mama.
kami pun mulai bercerita melepas rindu. sejak papa meninggal, mama seorang diri menafkahi aku dan adikku dengan tak kenal lelah.
sudah berkali-kali beliau berpindah-pindah tempat kerja.
pernah juga mama membuka rumah makan. tapi pekerjaan itu tak berlangsung lama. karena kebanyakan masyarakat kampung disini menghutang dan tak bisa membayar karena kemiskinan.
kemudian mama berpindah kerja menjadi penjahit.
hal itu juga tak berlangsung lama. karena pada dasarnya, orang-orang di kampung ini juga tak memiliki uang untuk membeli bakal dan menjahitkannya pada mama.
biasanya juga mereka membeli baju yang sudah jadi di toko. itu pun kalau mau lebaran saja. atau sehabis mendapatkan sembako.
miris memang melihat kehidupan masyarakat kampungku ini.
yah,, memang bukan kampung asli ku sih.
maka dari itu, mama sangat ingin aku menjadi dokter umum. agar bisa membuka klinik gratis bagi orang-orang kampung yang tidak mampu.
tapi begitu mendengar kabar bahwa aku mengambil specialis kejiwaan, mama sangat kecewa. karena aku tidak bisa meneruskan jejak-jejak papa sebagai seorang dokter umum.
Kasiaann.. Mg seiring dgn brjalannya waktu mamanya bisa terima ...amiiiin
BalasHapus